Sunday, March 27, 2022

MENGEJAWENTAHKAN SISTEM AMONG MELALUI PEMBELAJARAN DIFERENSIASI, SOSIAL EMOSIONAL DAN PENDEKATAN COACHING

 

MENGEJAWENTAHKAN SISTEM AMONG  MELALUI  PEMBELAJARAN DIFERENSIASI, SOSIAL EMOSIONAL DAN PENDEKATAN COACHING

2.3.a.9 Koneksi Antarmateri -Coaching


Ki Hajar Dewantara  mennggunakan metode Pendidikan yang disebut sistem among ketika mendirikan Perguruan Taman Siswa. Isi sistem among terangkum dalam asas yang sangat terkenal yaitu ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Menurut Ki Hajar Dewantara , seorang guru semestinya menjadi pamong, mendidik dengan welas asih sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Sistem Pendidikan terbaik adalah yang mampu menumbuhkan disiplin dan pemahaman mengenai kodrat dan kesejatian hidup dari dalam diri siswa sendiri. Hal ini tidak dapat tercapai melalui metode yang menekankan pada perintah, paksaan dan hukuman.

Sistem among memberikan kesempatan seluas-luasnya pada kemandirian siswa. Siswa didorong untuk mengembangkan disiplin diri yang sejati, melalui pengalaman, pemahaman dan upayanya sendiri. Dalam sistem among guru memiliki tiga fungsi utama. Ketika di depan ia menjadi tauladan atau contoh yang baik bagi para murid. Di tengah, menjadi pendorong dan pemberi semangat dan di belakang menjadi pengamat kemajuan para murid.

Ki Hajar Dewantara juga menekankan agar para guru mendorong muridnya agar mengikuti jalur yang benar, hendaknya guru berusaha untuk mengupayakan setiap peluang kemajuan bagi mereka tanpa banyak campur tangan. Selanjutnya para guru tinggal mengamati kemajuan. Dalam kegiatan belajar dan mengajar guru sangat disarankan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang memberi keleluasaan pada siswa untuk meningkatkan potensi sesuai dengan kesiapan belajar, minat dan profil belajar siswa tersebut. Pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya berfokus pada produk pembelajaran, tetapi juga berfokus pada proses dan konten/materi. Pembelajaran ini dapat diterapkan hamper pada semua mata pelajaran.

Pembelajaran diferensiasi dapat berhasil apabila guru dapat mengenali setiap perkembangan karakter dan sosial emosional setiap peserta didiknya. Guru pun harus mampu menguasai dan menerapkan pembelajaran sosial emosional baik yang terintegrasi dalam pembelajaran, secara eksplisit, secara rutin diterapkan dalam budaya positif atau aturan yang dibuat oleh sekolah. Pembelajaran sosial emosional dapat didefinisikan sebagai proses pengembangan kesadaran diri, pengendalian diri, dan keterampilan interpersonal yang penting untuk sekolah, pekerjaan dan kesuksesan hidup.

Pembelajaran sosial emosional adalah bagian penting dari pengembangan manusia, membekali siswa dengan keterampilan, kemampuan , alat dan pengetahuan untuk membangun hubungan positif, memecahkan masalah, membuat keputisan cerdas dan mencapai tingkat kesadaran diri yang diperlukan . pembelajaran sosial emosional juga dapat memberikan landasan bagi keberhasilan Pendidikan.

Melalui pembelajaran sosial emosional , siswa dapat memperoleh alat-alat yang dibutuhkan untuk menetapkan tujuan bagi diri mereka sendiri yaitu:  memecahkan masalah, bertahan dalam menghadapi kesulitan, memperjuangkan keadilan sosial, berempati dengan orang lain, bertanggung jawab, memimpin dengan memberi contoh, dan menetapkan jenis perilaku yang paling memprediksi keberhasilan jangka Panjang dalam kehidupan yang akan datang. Keterampilan mengajar yang terkait dengan pembelajaran sosial emosional, guru dapat menggunakan umpan balik sosial-emosional untuk menginformasikan pelajaran mereka , secara sederhana ini mengacu pada proses merasakan suasana hati siswa di kelas. Ini berarti juga menyadari keadaan emosi siswa yang berbeda atau tanggapan terhadap bagian-bagian tertentu dari pelajaran. Pembelajaran ini pun sangat bermanfaat bagi guru. Guru jauh lebih mudah mengajar kelas yang diisi dengan siswa yang memiliki karakter berikut: teliti, empati, sadar diri, dilengkapi untuk membuat keputusan yang cerdas dan mampu bernalar dan mempertimbangkan manfaat dan konsekuensi dari tindakan mereka.

Salah satu tugas guru dalam proses memaksimalkan potensi anak untuk menuntun mereka pada kemerdekaan belajar adalah Coaching. Dalam konteks Pendidikan Indonesia saat ini murid dalam pembelajaran diharapkan untuk merdeka. Kemerdekaan dalam belajar diperoleh dalam proses coaching. Proses coaching merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak anak agar lebih kreatif dan komunikatif. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam dapat membuat murid melakukan metakognisi. Proses coaching membuat anak lebih berfikir secara kritis dan belajar mengkomunikasikan pengetahuannya karena naka memiliki potensi yang berbeda-beda yang perlu untuk dikembangkan.

Guru hendaknya memiliki keterampilan coaching mengingat pentingnya guru dalam menuntun potensi anakatau bahkan rekan sejawatnya. Keterampilan coaching harus didukung oleh keterampilan komunikasi dan menciptakan suasana nyaman. Empat kompetensi dasar bagi seorang coach yaitu:

·       Keterampilan membangun dasar proses coaching

·       Keterampilan membangun hubungan baik

·       Keterampilan berkomunikasi

·       Keterampilan memfasilitasi pembelajaran

 

Coaching memiliki peran yang sangat penting karena dapat digunakan untuk menggalipotensi murid sekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang disepakati bersama. Jika proses coaching berhasil dengan baik, masalah-masalah eksternal yang mengganggu proses pembelajaran yang dapat menurunkan potensi murid dapat teratasi. Kegiatan Coaching sangatlah berbeda dengan mentoring dan konseling. Jika tujuan mentoring adalah membagikan pengalamannya untuk membantu mentee mengembangkan dirinya, sedangkan konseling bertujuan membantu konseli memecahkan masalahnya. Lain halnya dengan tujuan dari coaching. Coaching bertujuan mengarahkan coachee untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dan memaksimalkan potensinya. Prinsip-prinsip coacing antara lain:

·   Kolaborasi coach dan coachee

·   Coach menuntun, menfasilitasi, memaksimalkan potensi coachee

·   Berfokus pada solusi

·   Berorientasi pada hasil

·   Sistematis

Dalam menerapkan coaching diperlukan komunikasi yang efektif agar coaching dapat berlangsung sesuai denga napa yang diharapkan. Maka guru perlu memahami 4 aspek yang dapat dilatih dalam praktik coaching yaitu: 

·     Komunikasi asertif

·     Pendengar aktif

·     Bertanya efektif

·     Umpan balik positif

TIRTA adalah salah satu model coaching yang dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang menuntut guru memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan coaching yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. Melalui model TIRTA , guru diharapkan dapat melakukan praktik coaching di komunitas sekolah dengan mudah. TIRTA kepanjangan dari

T  : Tujuan

 I  : Identifikasi

 R : Rencana aksi

 TA: Tanggung jawab

Dengan mengejawentahkan sistem among melalui pembelajaran diferensiasi, sosial emosional dan pendekatan coaching ada pendidikan akan menghasilkan manusia yang merdeka yang berkembang secara utuh dan selaras dalam segala aspek kemanusiaannya serta mampu menghargai dan menghormati manusia lain.

Tuesday, March 15, 2022

Pembelajaran Diferensiasi dan Sosial -Emosional Jembatan untuk Memahami "Warna-Warni Pelangi Setiap Diri Siswa"

Pembelajaran Diferensiasi dan Sosial -Emosional Jembatan untuk Memahami

Warna-Warni Pelangi Setiap Diri Siswa

Salah satu tujuan kurikulum paradigma baru adalah untuk mencapai profil Pelajar Pancasila. Cara untuk mempercepat terwujud tujuan tersebut perlu dilaksanakan pembelajaran yang dirancang dengan mempertimbangkan tingkat pencapaian peserta didik saat ini, sesuai dengan kebutuhan belajar serta mencerminkan karakter dan perkembangan mereka.  Pembelajaran harus mendukung terbentuknya kesejahteraan (wellbeing) peserta didik. Kesejahteraan (wellbeing) adalah sebuah kondisi di mana individu memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya.

Berdasarkan hasil penelitian orang yang memiliki kemampuan mengendalikan emosi sosial yang baik lebih bisa menangani tantangan dalam keseharian yang menunjang kesuksesannya dibidang akademik, profesional dan sosial. Jika setiap individu bisa menguasai kemampuan ini maka setiap individu tersebut menjadi individu yang mampu melakukan banyak hal positif. Saat kompetensi sosial emosional berkembang maka aspek akademik mereka pun berkembang. Mengabaikan perkembangan sosial dan emosional akan berdampak buruk bagi akademik peserta didik. Oleh karena itu pembelajaran sosial emosional harus diimplementasikan dengan sengaja. Pembelajaran sosial dan emosional penting dikenalkan pada anak-anak di rumah maupun di sekolah. Bapak Pendidikan Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara memiliki keyakinan bahwa Pendidikan anak mulai sejak usia dini sangatlah penting untuk mengoptimalkan proses tumbuh kembang anak. Ki Hajar Dewantara menggunakan metode among, Beliau percaya bahwa segala tingkah laku dan segala keadaan anak-anak sudah diisi Sang Maha Among segala alat-alat yang bersifat Pendidikan. Semboyan  Tut Wuri Handayani pun bermakna memberi kebebasan yang luas, selama  tidak ada bahaya yang mengancam anak-anak.

 Ki Hajar Dewantara menganjurkan untuk menyelenggarakan pendidikan yang bercorak warna dan berbentuk nasional. Adapun corak warna dan nasional, diantaranya:

1.   Upaya Pendidikan dan perawatan anak-anak menyenangkan diri sendiri sehingga kita mengenal jiwa dan watak para anak.

2. Pilih banyak permainan yang diiringi oleh nyanyian dan tarian yang sesuai dengan maksud dan tujuan.

3.   Bangun hubungan antara anak-anak dan masyarakat

4.   Gunakan konsep pedagogis untuk mengajar anak-anak.

Salah satu inovasi pembelajaran yang berpihak kepada murid dengan bercorak warna , mengenal jiwa dan watak para siswa adalah pembelajaran sosial dan emosional. Untuk memperdalam kita dalam memahami sisi sosial-emosional peserta didik , seorang guru terlebih dahulu harus  mampu mengelola aspek  sosial dan emosional diri sendiri kemudian mengimbaskannya ke peserta didik melalui pembelajaran sosial-emosional. Pembelajaran sosial dan emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.

Tujuan Pembelajaran sosial emosional antara lain :

1.   Memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi (kesadaran diri).

2.   Menetapkan dan mencapai  tujuan positif (pengelolaan diri).

3.   Merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (Kesadaran sosial).

4.   Membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan membangun relasi).

5.   Membuat keputusan yang bertanggung jawab (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab)

Implementasi pembelajaran sosial dan emosional dapat dilakukan dengan 4 cara:

1.   Mengajarkan kompetensi sosial emosional secara spesifik dan eksplisit.


2. Mengintegrasikan kompetensi sosial emosional (KSE) ke dalam praktik mengajar guru dan gaya interaksi dengan peserta didik.


3. Mengubah kebijakan dan ekspektasi sekolah terhadap peserta didik.

4. Mempengaruhi pola pikir peserta didik tentang persepsi diri, orang lain dan lingkungan .

 

Pendekatan pada pembelajaran sosial dan emosional yang efektif dan sering kali menggabungkan 4 elemen yang diwakili oleh akronim SAFE

1.  Sequential/berurutan : aktivitas yang mendorong terbentuk dan terkoordinasi untuk mendorong pengembangan keterampilan.

2.   Active/aktif : bentuk pembelajaran aktif yang melibatkan murid untuk menguasai keterampilan dan sikap baru.

3.     Focused/fokus : ada unsur pengembangan keterampilan sosial maupun personal

4.   Eksplicit / eksplisit : tertuju pada pengembangan keterampilan sosial dan emosional tertentu secara eksplisit.

Hasil pencapaian pembelajaran sosial dan emosional antara lain:


Guru memiliki kewajiban untuk melayani dan mendukung semua peserta didik yang memiliki motivasi berbeda untuk belajar dengan nyaman, berperilaku baik, dan berprestasi secara akademik. Ada 5 kunci yang harus dikembangkan untuk bisa menguasai pembelajaran sosial emosional dengan sukses yaitu:

1.   Kesadaran diri

Kesadaran diri ini melingkupi pemahaman tentang emosi seseorang, mimpi seseorang dan nilai-nilai yang ada dalam diri setiap individu. Hal ini termasuk juga mengenal kelebihan dan kekurangan individu, memiliki wawasan positif, dan memiliki rasa optimisme yang baik. Penguasaan kesadaran diri yang tinggi memerlukan kemampuan untuk mengenali bagaimana pemikiran, perasaan, dan aksi bisa terhubung dengan baik.

2.   Pengelolaan diri

Manajemen diri atau kemampuan mengelola diri memerlukan keahlian dan perilaku yang bisa memfasilitasi pengaturan emosi dan perilaku seseorang. Hal ini termasuk kemampuan untuk menunda kepuasan diri, mengelola stres, mengendalikan hasrat, dan tekun menghadapi tantangan untuk meraih tujuan personal.

3.   Kesadaran sosial

Keterampilan dalam mengelola hubungan yang baik akan membuat siswa mampu berperilaku dan bertindak sesuai dengan norma sosial yang ada. Keahlian ini meliputi cara berkomunikasi, mendengarkan dengan aktif, bekerjasama, menolak tekanan sosial, bernegosiasi dengan konflik dan kritik membangun, dan mencari bantuan jika membutuhkan.

4.   Keterampilan sosial

Bisa membuat keputusan yang bertanggung jawab meliputi pembelajaran tentang bagaimana membuat pilihan yang membangun tentang perilaku personal dan interaksi sosial dalam skenario berbeda. Bisa membuat keputusan yang bertanggung jawab memerlukan kemampuan untuk mempertimbangkan standar etika, perhatian pada keamanan, bagaimana bertindak sesuai norma dalam situasi yang berisiko, memperhatikan kesehatan pribadi dan orang lain, dan membuat evaluasi realistis dari berbagai konsekuensi berbeda.

Penerapan pembelajaran sosial dan emosional sebaiknya berbasis kesadaran penuh . Kesadaran penuh (mindfulnes) harus dimiliki oleh guru dan peserta didik. Kesadaran penuh (mindfulnes) merupakan kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang dilandasi rasa ingin tau dan welas asih (Kabat Zinn dalam Hawkin.2017). Secara saintifik Latihan berkesadaran penuh (mindfulnes) yang konsisten dapat memperkuat hubungan sel-sel saraf (neuron) otak yang berhubungan dengan fokus, konsentrasi dan kesadaran (Hawn Foundation,2011). Kesadaran penuh dapat dilatih dan ditumbuhkan melalui berbagai kegiatan sehari-hari maupun dalam pembelajaran yang dilakukan secara mindful (ada koneksi antara sel-sel saraf dengan tubuh/indera, pikiran dan lingkungan).

Peserta didik adalah individu yang unik, oleh karena itu tanggung jawab guru adalah membantu peserta didik memahami materi ajar dan menguasai keterampilan sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Lebih jauh lagi guru diharapkan dapat memahami bahwa peserta didik memiliki pengetahuan awal dan keterampilan, perkembangan sosial emosional yang berbeda-beda dipengaruhi oleh bagaimana mereka dibesarkan dalam keluarga dan lingkungannya. Guru memiliki tugas untuk mengenali karakteristik dan kebutuhan peserta didik agar dapat mengembangkan potensi yang mereka miliki. Kebutuhan belajar adalah jarak atau kesenjangan antara sasaran belajar yang ingin dicapai dengan kondisi real murid saat ini. Ada 3 faktor yang mempengaruhi kebutuhan belajar yaitu pengetahuan, keterampilan dan ketertarikan (antusiasme) murid. Sebelum menerapkan suatu pembelajaran yang terlebih dahulu guru lakukan adalah mengidentifikasi karakter dan tingkat pemahaman murid, kemudian guru memetakan peserta didik berdasarkan karakteristik dan tingkat pemahaman untuk tugas selanjutnya. Strategi pemetaan murid dapat dilakukan berdasarkan kesiapan, ketertarikan profil belajar dan mengimplementasikan strategi pemetaan murid untuk pembelajaran yang efektif. Pembelajaran yang memberi keleluasaan pada siswa untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa adalah Pembelajaran Diferensiasi. Pembelajaran diferensiasi merupakan serangkaian keputusan masuk akal yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan -keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

1. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang mengundang peserta didik untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi.

2. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran namun juga muridnya.

3. Penilaian berkelanjutan .

4. Bagaimana guru merespon kebutuhan belajar peserta didiknya dengan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik.

5. Manajemen kelas yang efektif.

 

            Tomlison( 2001) mengkategorikan kebutuhan belajar peserta didik paling tidak berdasarkan 3 aspek yaitu:

1.   Kesiapan belajar murid

Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru.

2.   Minat murid

Minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

3.   Profil belajar murid

Profil belajar merupakan pendekatan yang disukai murid untuk belajar yang dipengaruhi oleh gaya berfikir, kecerdasan, budaya, latar belakang , jenis kelamin dll.

   Ada 3 strategi yang diterapkan dalam pembelajaran diferensiasi antara lain:

1.     Diferensiasi konten

terkait dengan materi ajar yang disampaikan kepada peserta didik, media konkret dan abstrak, memastikan peserta didik dapat mengakses materi sesuai gaya belajarnya.

2.     Diferensiasi proses

terkait dengan pemahaman murid memaknai materi yang dipelajari, dengan cara: kegiatan berjenjang, pertanyaan pemandu atau tantangan, membuat agenda individual, memvariasikan lama waktu, mengembangkan kegiatan bervariasi, menggunakan pengelompokkan yang fleksibel.

3.     Diferensiasi produk

   Terkait dengan tagihan pembelajaran atau hasil karya pekerjaan murid, atau sesuatu yang ada wujudnya.


2.2.a.9 KONEKSI ANTAR MATERI PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL