Pembelajaran
Diferensiasi dan Sosial -Emosional Jembatan untuk Memahami
Warna-Warni
Pelangi Setiap Diri Siswa
Salah
satu tujuan kurikulum paradigma baru adalah untuk mencapai profil Pelajar
Pancasila. Cara untuk mempercepat terwujud tujuan tersebut perlu dilaksanakan
pembelajaran yang dirancang dengan mempertimbangkan tingkat pencapaian peserta
didik saat ini, sesuai dengan kebutuhan belajar serta mencerminkan karakter dan
perkembangan mereka. Pembelajaran harus
mendukung terbentuknya kesejahteraan (wellbeing) peserta didik.
Kesejahteraan (wellbeing) adalah sebuah kondisi di mana individu memiliki
sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat
keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi kebutuhan
dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki
tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna serta berusaha
mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya.
Berdasarkan
hasil penelitian orang yang memiliki kemampuan mengendalikan emosi sosial yang
baik lebih bisa menangani tantangan dalam keseharian yang menunjang
kesuksesannya dibidang akademik, profesional dan sosial. Jika setiap individu
bisa menguasai kemampuan ini maka setiap individu tersebut menjadi individu yang
mampu melakukan banyak hal positif. Saat kompetensi sosial emosional berkembang
maka aspek akademik mereka pun berkembang. Mengabaikan perkembangan sosial dan
emosional akan berdampak buruk bagi akademik peserta didik. Oleh karena itu
pembelajaran sosial emosional harus diimplementasikan dengan sengaja.
Pembelajaran sosial dan emosional penting dikenalkan pada anak-anak di rumah
maupun di sekolah. Bapak Pendidikan Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara memiliki
keyakinan bahwa Pendidikan anak mulai sejak usia dini sangatlah penting untuk
mengoptimalkan proses tumbuh kembang anak. Ki Hajar Dewantara menggunakan
metode among, Beliau percaya bahwa segala tingkah laku dan segala keadaan
anak-anak sudah diisi Sang Maha Among segala alat-alat yang bersifat Pendidikan.
Semboyan Tut Wuri Handayani pun bermakna
memberi kebebasan yang luas, selama tidak
ada bahaya yang mengancam anak-anak.
Ki Hajar Dewantara menganjurkan untuk menyelenggarakan pendidikan yang bercorak warna dan berbentuk nasional. Adapun corak warna dan nasional, diantaranya:
1. Upaya Pendidikan dan perawatan anak-anak
menyenangkan diri sendiri sehingga kita mengenal jiwa dan watak para anak.
2. Pilih banyak permainan yang diiringi oleh
nyanyian dan tarian yang sesuai dengan maksud dan tujuan.
3. Bangun hubungan antara anak-anak dan
masyarakat
4. Gunakan konsep pedagogis untuk mengajar
anak-anak.
Salah
satu inovasi pembelajaran yang berpihak kepada murid dengan bercorak warna ,
mengenal jiwa dan watak para siswa adalah pembelajaran sosial dan emosional. Untuk
memperdalam kita dalam memahami sisi sosial-emosional peserta didik , seorang
guru terlebih dahulu harus mampu
mengelola aspek sosial dan emosional
diri sendiri kemudian mengimbaskannya ke peserta didik melalui pembelajaran
sosial-emosional. Pembelajaran sosial dan emosional adalah pembelajaran yang
dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi
ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan
pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan
emosional.
Tujuan
Pembelajaran sosial emosional antara lain :
1. Memberikan pemahaman, penghayatan dan
kemampuan untuk mengelola emosi (kesadaran diri).
2. Menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri).
3. Merasakan dan menunjukkan empati kepada
orang lain (Kesadaran sosial).
4. Membangun dan mempertahankan hubungan yang
positif (keterampilan membangun relasi).
5. Membuat keputusan yang bertanggung jawab
(pengambilan keputusan yang bertanggung jawab)
Implementasi
pembelajaran sosial dan emosional dapat dilakukan dengan 4 cara:
1. Mengajarkan kompetensi sosial emosional secara spesifik dan eksplisit.
2. Mengintegrasikan kompetensi sosial
emosional (KSE) ke dalam praktik mengajar guru dan gaya interaksi dengan peserta
didik.
3. Mengubah kebijakan dan ekspektasi sekolah
terhadap peserta didik.
4. Mempengaruhi pola pikir peserta didik tentang
persepsi diri, orang lain dan lingkungan .
Pendekatan pada pembelajaran sosial
dan emosional yang efektif dan sering kali menggabungkan 4 elemen yang diwakili
oleh akronim SAFE
1. Sequential/berurutan
: aktivitas yang mendorong terbentuk dan terkoordinasi untuk mendorong
pengembangan keterampilan.
2. Active/aktif
: bentuk pembelajaran aktif yang melibatkan murid untuk menguasai keterampilan
dan sikap baru.
3. Focused/fokus
: ada unsur pengembangan keterampilan sosial maupun personal
4. Eksplicit
/ eksplisit : tertuju pada pengembangan keterampilan sosial dan emosional
tertentu secara eksplisit.
Hasil pencapaian pembelajaran sosial dan
emosional antara lain:
Guru memiliki kewajiban
untuk melayani dan mendukung semua peserta didik yang memiliki motivasi berbeda
untuk belajar dengan nyaman, berperilaku baik, dan berprestasi secara akademik.
Ada 5 kunci yang harus dikembangkan untuk bisa menguasai pembelajaran sosial
emosional dengan sukses yaitu:
1.
Kesadaran diri
Kesadaran diri ini melingkupi pemahaman tentang emosi
seseorang, mimpi seseorang dan nilai-nilai yang ada dalam diri setiap individu.
Hal ini termasuk juga mengenal kelebihan dan kekurangan individu, memiliki
wawasan positif, dan memiliki rasa optimisme yang baik. Penguasaan kesadaran
diri yang tinggi memerlukan kemampuan untuk mengenali bagaimana pemikiran,
perasaan, dan aksi bisa terhubung dengan baik.
2.
Pengelolaan diri
Manajemen diri atau kemampuan mengelola diri memerlukan
keahlian dan perilaku yang bisa memfasilitasi pengaturan emosi dan perilaku
seseorang. Hal ini termasuk kemampuan untuk menunda kepuasan diri, mengelola
stres, mengendalikan hasrat, dan tekun menghadapi tantangan untuk meraih tujuan
personal.
3.
Kesadaran sosial
Keterampilan dalam mengelola hubungan yang baik akan membuat
siswa mampu berperilaku dan bertindak sesuai dengan norma sosial yang ada.
Keahlian ini meliputi cara berkomunikasi, mendengarkan dengan aktif,
bekerjasama, menolak tekanan sosial, bernegosiasi dengan konflik dan kritik
membangun, dan mencari bantuan jika membutuhkan.
4.
Keterampilan sosial
Bisa membuat keputusan yang bertanggung jawab meliputi
pembelajaran tentang bagaimana membuat pilihan yang membangun tentang perilaku
personal dan interaksi sosial dalam skenario berbeda. Bisa membuat keputusan
yang bertanggung jawab memerlukan kemampuan untuk mempertimbangkan standar
etika, perhatian pada keamanan, bagaimana bertindak sesuai norma dalam situasi
yang berisiko, memperhatikan kesehatan pribadi dan orang lain, dan membuat
evaluasi realistis dari berbagai konsekuensi berbeda.
Penerapan pembelajaran sosial dan emosional sebaiknya berbasis kesadaran penuh . Kesadaran penuh (mindfulnes) harus dimiliki oleh guru dan peserta didik. Kesadaran penuh (mindfulnes) merupakan kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang dilandasi rasa ingin tau dan welas asih (Kabat Zinn dalam Hawkin.2017). Secara saintifik Latihan berkesadaran penuh (mindfulnes) yang konsisten dapat memperkuat hubungan sel-sel saraf (neuron) otak yang berhubungan dengan fokus, konsentrasi dan kesadaran (Hawn Foundation,2011). Kesadaran penuh dapat dilatih dan ditumbuhkan melalui berbagai kegiatan sehari-hari maupun dalam pembelajaran yang dilakukan secara mindful (ada koneksi antara sel-sel saraf dengan tubuh/indera, pikiran dan lingkungan).
Peserta didik adalah individu yang unik, oleh karena
itu tanggung jawab guru adalah membantu peserta didik memahami materi ajar dan
menguasai keterampilan sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Lebih jauh
lagi guru diharapkan dapat memahami bahwa peserta didik memiliki pengetahuan
awal dan keterampilan, perkembangan sosial emosional yang berbeda-beda
dipengaruhi oleh bagaimana mereka dibesarkan dalam keluarga dan lingkungannya.
Guru memiliki tugas untuk mengenali karakteristik dan kebutuhan peserta didik
agar dapat mengembangkan potensi yang mereka miliki. Kebutuhan belajar adalah
jarak atau kesenjangan antara sasaran belajar yang ingin dicapai dengan kondisi
real murid saat ini. Ada 3 faktor yang mempengaruhi kebutuhan belajar yaitu
pengetahuan, keterampilan dan ketertarikan (antusiasme) murid. Sebelum menerapkan
suatu pembelajaran yang terlebih dahulu guru lakukan adalah mengidentifikasi
karakter dan tingkat pemahaman murid, kemudian guru memetakan peserta didik
berdasarkan karakteristik dan tingkat pemahaman untuk tugas selanjutnya.
Strategi pemetaan murid dapat dilakukan berdasarkan kesiapan, ketertarikan
profil belajar dan mengimplementasikan strategi pemetaan murid untuk
pembelajaran yang efektif. Pembelajaran yang memberi keleluasaan pada siswa
untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan
profil belajar siswa adalah Pembelajaran Diferensiasi. Pembelajaran
diferensiasi merupakan serangkaian keputusan masuk akal yang dibuat oleh guru
yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan -keputusan yang dibuat
tersebut adalah yang terkait dengan:
1. Bagaimana mereka menciptakan
lingkungan belajar yang mengundang peserta didik untuk belajar dan bekerja
keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi.
2. Kurikulum yang memiliki tujuan
pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, jadi bukan hanya guru yang perlu
jelas dengan tujuan pembelajaran namun juga muridnya.
3. Penilaian berkelanjutan .
4. Bagaimana guru merespon kebutuhan
belajar peserta didiknya dengan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk
memenuhi kebutuhan belajar peserta didik.
5. Manajemen kelas yang efektif.
Tomlison( 2001) mengkategorikan kebutuhan belajar peserta didik paling tidak berdasarkan 3 aspek yaitu:
1.
Kesiapan belajar murid
Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk
mempelajari materi baru.
2.
Minat murid
Minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk
terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
3.
Profil belajar murid
Profil belajar merupakan pendekatan yang disukai murid untuk belajar yang dipengaruhi oleh gaya berfikir, kecerdasan, budaya, latar belakang , jenis kelamin dll.
Ada 3 strategi
yang diterapkan dalam pembelajaran diferensiasi antara lain:
1.
Diferensiasi konten
terkait dengan materi ajar yang disampaikan kepada peserta didik, media konkret dan abstrak, memastikan peserta didik dapat mengakses materi sesuai gaya belajarnya.
2.
Diferensiasi proses
terkait dengan pemahaman murid memaknai materi yang dipelajari, dengan cara: kegiatan berjenjang, pertanyaan pemandu atau tantangan, membuat agenda individual, memvariasikan lama waktu, mengembangkan kegiatan bervariasi, menggunakan pengelompokkan yang fleksibel.
3.
Diferensiasi produk
Terkait dengan tagihan pembelajaran atau
hasil karya pekerjaan murid, atau sesuatu yang ada wujudnya.
2.2.a.9 KONEKSI ANTAR MATERI
PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL
No comments:
Post a Comment