MEMBUMIKAN FILOSOFI
PATRAP TRILOKA DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN
Patrap Triloka merupakan asas-asas Pendidikan yang
dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Bapak Pendidikan Nasioal ini adalah sosok
pemimpin yang patut kita jadikan teladan. Filosofi Patrap Triloka yang sangat
terkenal adalah:
“Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun
Karsa, Tut Wuri Handayani ”.
Artinya dalam Bahas Indonesia adalah “di
depan memberi teladan, di tengah membangun motivasi dan di belakang memberikan
dukungan.
Ketiga filosofi tersebut tak lekang oleh
zaman dan masih selaras dengan keadaan sekarang di tengah derasnya arus
perkembangan informasi dan teknologi. Di dalam dunia Pendidikan, Patrap
Triloka erat kaitannya dengan peran seorang guru. Guru merupakan pemimpin dalam
pembelajaran. Di era globalisasi dan perkembangan digital sekarang ini peran
guru sebagai pemimpin pembelajaran benar- benar dituntut agar mampu mengelola
pembelajaran yang berkualitas dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang
tersedia. Guru tidak lagi berperan sebagai seorang yang lebih tahu dari
muridnya sebagaimana zaman dulu namun guru diwajibkan mampu menjalin kolaborasi
dengan murid dalam proses pembelajaran sebab kehadiran teknologi digital saat
ini membuat semua informasi mudah diakses oleh siapa pun , di mana pun dan
kapan pun melalui jaringan internet.
Berkaitan
dengan hal tersebut, saya ingin mengajak Bapak/Ibu Guru untuk memaknai filosofi
Patrap Triloka dalam konsep kepemimpinan.
Ing Ngarsa Sung Tuladha: berada di baris depan, seorang pemimpin harus
bisa menjadi contoh dan teladan bagi yang dipimpin.
Ing Madya Mangun Karsa: Merangkul (berada ditengah-tengah) orang
yang dipimpin, seorang pemimpin harus mampu membangkitkan semangat, niat dan
inisiatif orang yang dipimpinnya.
Tut Wuri Handayani: sembari mengawasi dari belakang, seorang pemimpin harus mampu memberi dorongan dan dukungan moral agar orang yang dipimpinnya mampu menghasilkan karya-karya terbaiknya.
Seorang guru dalam pandangan masyarakat
merupakan sosok yang menjadi suri teladan baik dari tutur Bahasa, tingkah laku
bahkan cara berpikirnya untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Oleh karena
itu, sebagai seorang guru hendaknya membentuk, mengembangkan, dan menerapkan
nilai-nilai kebajikan yang tertanam dalam diri sebagai upaya menjadi teladan
bagi murid. Lumpkin (2008) menyatakan bahwa guru yang berkarakter baik
mengajarkan murid mereka tentang bagaimana keputusan dibuat melalui proses
pertimbangan moral. Keputusan-keputusan yang memiliki nilai-nilai kebaikan yang
diambil guru sebagai pemimpin pembelajaran akan terpatri di benak muridnya dan
kelak nilai-nilai kebaikan itu akan diduplikasi serta dilestarikan
murid-muridnya di tengah masyarakat.
Pengambilan
keputusan yang dilakukan oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran memerlukan
pendekatan yang tepat agar keputusan yang diambil nantinya berdampak pada
terciptanya lingkungan yang kondusif, budaya positif dan situasi yang aman
serta nyaman untuk menunjang merdeka belajar bagi murid. Coaching adalah salah
satu kemampuan yang harus dimiliki oleh guru. Proses coaching
merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak anak agar lebih kreatif dan
komunikatif. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam dapat membuat murid
melakukan metakognisi. Proses coaching membuat anak lebih berpikir secara
kritis dan belajar mengkomunikasikan pengetahuannya karena naka memiliki
potensi yang berbeda-beda yang perlu untuk dikembangkan. Coaching model TIRTA
dirasa tepat diterapkan dalam sistem Pendidikan di Indonesia. Guru harus mampu
melakukan komunikasi asertif dan pendengar yang aktif agar murid merasa nyaman
untuk menceritakan segala masalah/kendala yang dihadapinya. Guru dituntut untuk
mengembangkan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang mampu menuntun murid dalam
menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Melalui coaching keputusan yang telah
diambil oleh murid dapat direfleksikan kembali menjadi keputusan yang
bertanggung jawab. Sebab keputusan yang diambil oleh seorang guru sebagai
pemimpin pembelajaran memiliki andil besar terhadap masa depan murid-muridnya.
Setiap saat guru membuat keputusan.
Kadang kala, beberapa keputusan sangat mudah untuk diputuskan , tetapi banyak
pula yang begitu kompleks. Pada proses pengambilan keputusan yang berkualitas
sebetulnya tidak hanya bersifat material tetapi juga memiliki komponen kognitif
dan sosial-emosional yang terkandung di dalamnya. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa emosi
memiliki pengaruh besar pada berbagai proses kognitif. Misalnya perhatian,
persepsi, pengkodean memori dan pembelajaran asosiatif. Selaras dengan hal
tersebut , Damasio dalam Goleman (2007) juga menyatakan bahwa emosi dapat
menghambat atau membantu proses pengambilan keputusan. Di mana salah satu faktor
yang dapat menentukannya adalah kompetensi pengambilan keputusan untuk
mengidentifikasi dan mengendalikan yang
dimiliki oleh setiap individu. Seorang guru juga perlu memiliki kemampuan dalam
mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya agar dalam proses pengambilan
keputusan dilakukan dengan kesadaran penuh, sadar dengan berbagai pilihan dan
konsekuensi yang ada. Ketika seorang guru menguasai dan memiliki kematangan
dalam aspek sosial emosionalnya, maka di saat beliau mengambil keputusan pasti
tujuannya harus berdampak positif bagi murid dan tentunya dapat
dipertanggungjawabkan. Kesadaran penuh sangat diperlukan oleh guru dalam
mengambil keputusan. Di saat seorang guru yang telah mampu menyadari dan
mengelola aspek sosial emosional dihadapkan pada situasi dilema etika yang
menuntutnya untuk membuat keputusan, mekanisme otaknya akan secara sadar
mengarahkan diri untuk berhenti sejenak dari segala aktivitas, kemudian menarik
nafas panjang/ menerapkan Teknik STOP hingga memberi waktu baginya untuk
memahami dengan baik situasi yang terjadi. Guru tersebut kemudian akan mencari
tahu apa yang dirasakan murid dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Respon
yang diberikan pun akan berdampak positif bagi muridnya.
Sebagai seorang pendidik pun dalam menjalankan perannya sering dihadapkan dalam situasi yang meragukan hingga timbul perasaan takut untuk mengambil keputusan. Ketika seorang guru dihadapkan dalam situasi dilema etika tahu bujukan moral , maka mengidentifikasi paradigma yang terjadi, menentukan prinsip pengambilan dan pengujian keputusan membantunya dalam membuat keputusan. Sedangkan dalam kasus moral , nilai kebajikan yang tertanam pada diri seorang guru akan menjadi penentu keputusan yang diambil. Guru harus memiliki karakter yang tegas, bertanggung jawab, integritas hingga memegang komitmen agar dapat menjadi dasar penentuan keputusan. Melalui 9 langkah pengujian keputusan, seorang guru akan menerapkan nilai-nilai kebajikan yang ada pada dirinya terutama pada uji intuisi yang berkaitan dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai yang dianut. Keputusan yang dihasilkan melalui langkah-langkah yang tepat akan menghasilkan putusan yang minim risiko.
Kesulitan yang saya hadapi saat
memutuskan masalah pada situasi dilema etika adalah dalam menentukan paradigma
yang muncul karena hal ini berkaitan dengan nilai-nilai kebijakan yang dianut.
Dalam memutuskan suatu kasus akan dijumpai pertentangan pemilihan paradigma
dilema etika sebab adanya perbedaan nilai-nilai kebajikan yang dianut oleh
setiap individu. Perbedaan ini akan
berdampak pada persepsi dan pola pikir seseorang atau pihak-pihak yang terlibat dalam kasus sehingga menghambat
tercapainya kesepakatan dalam membuat suatu keputusan.
Dan pada akhirnya pengambilan
keputusan oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran berpengaruh terhadap proses
belajar mengajar yang dilakukan. Keputusan pemilihan model pembelajaran yang
tepat di mana kebutuhan murid dapat terakomodir secara keseluruhan memberi
kemerdekaan dan keleluasaan untuk membangun pengetahuannya dengan kondisi yang
menyenangkan dan membahagiakan dengan pembelajaran yang menyenangkan merupakan
keputusan yang urgen dan terobosan yang baik untuk memerdekakan murid-murid
kita yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka di masa yang akan datang.
Kesimpulan setelah mempelajari modul
3.1 jika dikaitkan dengan materi sebelumnya adalah segala bentuk keputusan yang
diambil guru sebagai pemimpin pembelajaran harus berdasarkan pada filosofi
Pendidikan yaitu menuntun seluruh kodrat alam dan kodrat zaman agar peserta
didik dapat menggapai kebahagiaan dan keselamatannya.
“Ketahuilah, setiap dari kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai
pertanggungjawaban atas kepemimpinanmu”