Tuesday, April 19, 2022

MEMBUMIKAN FILOSOFI PATRAP TRILOKA DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

 

MEMBUMIKAN FILOSOFI PATRAP TRILOKA DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN



                  Patrap Triloka merupakan asas-asas Pendidikan yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Bapak Pendidikan Nasioal ini adalah sosok pemimpin yang patut kita jadikan teladan. Filosofi Patrap Triloka yang sangat terkenal adalah:

Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani ”.

 Artinya dalam Bahas Indonesia adalah “di depan memberi teladan, di tengah membangun motivasi dan di belakang memberikan dukungan.

Ketiga filosofi tersebut tak lekang oleh zaman dan masih selaras dengan keadaan sekarang di tengah derasnya arus perkembangan informasi dan teknologi. Di dalam dunia Pendidikan, Patrap Triloka erat kaitannya dengan peran seorang guru. Guru merupakan pemimpin dalam pembelajaran. Di era globalisasi dan perkembangan digital sekarang ini peran guru sebagai pemimpin pembelajaran benar- benar dituntut agar mampu mengelola pembelajaran yang berkualitas dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang tersedia. Guru tidak lagi berperan sebagai seorang yang lebih tahu dari muridnya sebagaimana zaman dulu namun guru diwajibkan mampu menjalin kolaborasi dengan murid dalam proses pembelajaran sebab kehadiran teknologi digital saat ini membuat semua informasi mudah diakses oleh siapa pun , di mana pun dan kapan pun melalui jaringan internet.

 

            Berkaitan dengan hal tersebut, saya ingin mengajak Bapak/Ibu Guru untuk memaknai filosofi Patrap Triloka dalam konsep kepemimpinan.

Ing Ngarsa Sung Tuladha: berada di baris depan, seorang pemimpin harus bisa menjadi contoh dan teladan bagi yang dipimpin.

Ing Madya Mangun Karsa: Merangkul (berada ditengah-tengah) orang yang dipimpin, seorang pemimpin harus mampu membangkitkan semangat, niat dan inisiatif orang yang dipimpinnya.

Tut Wuri Handayani: sembari mengawasi dari belakang, seorang pemimpin harus mampu memberi dorongan dan dukungan moral agar orang yang dipimpinnya mampu menghasilkan karya-karya terbaiknya.

Seorang guru dalam pandangan masyarakat merupakan sosok yang menjadi suri teladan baik dari tutur Bahasa, tingkah laku bahkan cara berpikirnya untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Oleh karena itu, sebagai seorang guru hendaknya membentuk, mengembangkan, dan menerapkan nilai-nilai kebajikan yang tertanam dalam diri sebagai upaya menjadi teladan bagi murid. Lumpkin (2008) menyatakan bahwa guru yang berkarakter baik mengajarkan murid mereka tentang bagaimana keputusan dibuat melalui proses pertimbangan moral. Keputusan-keputusan yang memiliki nilai-nilai kebaikan yang diambil guru sebagai pemimpin pembelajaran akan terpatri di benak muridnya dan kelak nilai-nilai kebaikan itu akan diduplikasi serta dilestarikan murid-muridnya di tengah masyarakat.

            Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran memerlukan pendekatan yang tepat agar keputusan yang diambil nantinya berdampak pada terciptanya lingkungan yang kondusif, budaya positif dan situasi yang aman serta nyaman untuk menunjang merdeka belajar bagi murid. Coaching adalah salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh guru. Proses coaching merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak anak agar lebih kreatif dan komunikatif. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam dapat membuat murid melakukan metakognisi. Proses coaching membuat anak lebih berpikir secara kritis dan belajar mengkomunikasikan pengetahuannya karena naka memiliki potensi yang berbeda-beda yang perlu untuk dikembangkan. Coaching model TIRTA dirasa tepat diterapkan dalam sistem Pendidikan di Indonesia. Guru harus mampu melakukan komunikasi asertif dan pendengar yang aktif agar murid merasa nyaman untuk menceritakan segala masalah/kendala yang dihadapinya. Guru dituntut untuk mengembangkan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang mampu menuntun murid dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Melalui coaching keputusan yang telah diambil oleh murid dapat direfleksikan kembali menjadi keputusan yang bertanggung jawab. Sebab keputusan yang diambil oleh seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran memiliki andil besar terhadap masa depan murid-muridnya.

            Setiap saat guru membuat keputusan. Kadang kala, beberapa keputusan sangat mudah untuk diputuskan , tetapi banyak pula yang begitu kompleks. Pada proses pengambilan keputusan yang berkualitas sebetulnya tidak hanya bersifat material tetapi juga memiliki komponen kognitif dan sosial-emosional yang terkandung di dalamnya.  Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa emosi memiliki pengaruh besar pada berbagai proses kognitif. Misalnya perhatian, persepsi, pengkodean memori dan pembelajaran asosiatif. Selaras dengan hal tersebut , Damasio dalam Goleman (2007) juga menyatakan bahwa emosi dapat menghambat atau membantu proses pengambilan keputusan. Di mana salah satu faktor yang dapat menentukannya adalah kompetensi pengambilan keputusan untuk mengidentifikasi  dan mengendalikan yang dimiliki oleh setiap individu. Seorang guru juga perlu memiliki kemampuan dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya agar dalam proses pengambilan keputusan dilakukan dengan kesadaran penuh, sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada. Ketika seorang guru menguasai dan memiliki kematangan dalam aspek sosial emosionalnya, maka di saat beliau mengambil keputusan pasti tujuannya harus berdampak positif bagi murid dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan. Kesadaran penuh sangat diperlukan oleh guru dalam mengambil keputusan. Di saat seorang guru yang telah mampu menyadari dan mengelola aspek sosial emosional dihadapkan pada situasi dilema etika yang menuntutnya untuk membuat keputusan, mekanisme otaknya akan secara sadar mengarahkan diri untuk berhenti sejenak dari segala aktivitas, kemudian menarik nafas panjang/ menerapkan Teknik STOP hingga memberi waktu baginya untuk memahami dengan baik situasi yang terjadi. Guru tersebut kemudian akan mencari tahu apa yang dirasakan murid dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Respon yang diberikan pun akan berdampak positif bagi muridnya.

            Sebagai seorang pendidik pun dalam menjalankan perannya sering dihadapkan dalam situasi yang meragukan hingga timbul perasaan takut  untuk mengambil keputusan. Ketika seorang guru dihadapkan dalam situasi dilema etika tahu bujukan moral , maka mengidentifikasi paradigma yang terjadi, menentukan prinsip pengambilan dan pengujian keputusan membantunya dalam membuat keputusan. Sedangkan dalam kasus moral , nilai kebajikan yang tertanam pada diri seorang guru akan menjadi penentu keputusan yang diambil. Guru harus memiliki karakter yang tegas, bertanggung jawab, integritas hingga memegang komitmen agar dapat menjadi dasar penentuan keputusan. Melalui 9 langkah pengujian keputusan, seorang guru akan menerapkan nilai-nilai kebajikan yang ada pada dirinya terutama pada uji intuisi yang berkaitan dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai yang dianut. Keputusan yang dihasilkan melalui langkah-langkah yang tepat akan menghasilkan putusan yang minim risiko.

            Kesulitan yang saya hadapi saat memutuskan masalah pada situasi dilema etika adalah dalam menentukan paradigma yang muncul karena hal ini berkaitan dengan nilai-nilai kebijakan yang dianut. Dalam memutuskan suatu kasus akan dijumpai pertentangan pemilihan paradigma dilema etika sebab adanya perbedaan nilai-nilai kebajikan yang dianut oleh setiap individu.  Perbedaan ini akan berdampak pada persepsi dan pola pikir seseorang  atau pihak-pihak  yang terlibat dalam kasus sehingga menghambat tercapainya kesepakatan dalam membuat suatu keputusan.

            Dan pada akhirnya pengambilan keputusan oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran berpengaruh terhadap proses belajar mengajar yang dilakukan. Keputusan pemilihan model pembelajaran yang tepat di mana kebutuhan murid dapat terakomodir secara keseluruhan memberi kemerdekaan dan keleluasaan untuk membangun pengetahuannya dengan kondisi yang menyenangkan dan membahagiakan dengan pembelajaran yang menyenangkan merupakan keputusan yang urgen dan terobosan yang baik untuk memerdekakan murid-murid kita yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka di masa yang akan datang.

            Kesimpulan setelah mempelajari modul 3.1 jika dikaitkan dengan materi sebelumnya adalah segala bentuk keputusan yang diambil guru sebagai pemimpin pembelajaran harus berdasarkan pada filosofi Pendidikan yaitu menuntun seluruh kodrat alam dan kodrat zaman agar peserta didik dapat menggapai kebahagiaan dan keselamatannya.

 

“Ketahuilah, setiap dari kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinanmu”

 

JURNAL MONOLOG REFLEKSI - Demonstrasi Kontekstual- Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

JURNAL MONOLOG REFLEKSI

 3.1.a.7 Demonstrasi Kontekstual- Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin      Pembelajaran

    

Salam hormat Bapak / Ibu guru agen perubahan di seluruh Indonesia

 

Guru merupakan pemimpin pembelajaran di kelas yang diampunya. Sebagai pemimpin pembelajaran, pasti Anda sering dihadapkan dalam situasi dilema etika atau bujukan moral yang mengharuskan Anda untuk mengambil keputusan. Pengambilan keputusan tersebut tidaklah mudah sebab sering kali melibatkan kepentingan dari beberapa pihak atau memiliki nilai kebijakan yang sama- sama benar tetapi saling bertentangan satu dengan yang lain.

 

Banyak pertanyaan yang pastinya berkecambuk dalam pikiran Anda sebelum sebuah mengambil keputusan mulai dari hal apa yang menjadi landasan Anda dalam  pengambilan keputusan kemudian setelah Anda mengambil keputusan tak jarang muncul keraguan dalam diri apakah keputusan Anda buat telah tepat dan efektif dalam menyelesaikan masalah  dan masih banyak lagi kontradiksi yang muncul ketika Anda dihadapkan untuk membuat keputusan dalam situasi dilema etika atau bujukan moral.

 

Bapak/Ibu Guru hebat apakah Anda sudah mampu mengidentifikasi masalah yang tengah dihadapi tergolong dilema etika atau bujukan moral? . Nah Apa perbedaan antara dilema etika dan bujukan moral?

 

A. Perbedaan Bujukan Moral dan Dilema Etika

Bujukan moral (benar VS salah) adalah sebuah situasi yang terjadi di mana seseorang dihadapkan pada situasi benar atau salah dalam mengambil keputusan.

Sedangkan dilema etika (benar VS benar) adalah sebuah situasi yang terjadi di mana seseorang dihadapkan pada situasi keduanya benar namun bertentangan dalam mengambil sebuah keputusan.      

B. Paradigma dalam Pengambilan Keputusan

        Sepanjang kita mengabdi di suatu institusi Pendidikan akan ada berbagai dilema etika yang harus kita hadapi dari waktu ke waktu. Dilema etika merupakan salah satu situasi yang berat dalam mengambil keputusan. Banyak nilai- nilai kebijakan mendasar yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran dan keadilan , kebebasan, persatuan, toleransi , tanggung jawab dan penghargaan akan hidup.

        Secara umum ada 4 paradigma yang mungkin terjadi pada situasi dilema etika yang dikategorikan sebagai berikut.

1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)

2. Rasa Keadilan lawan rasa kesedihan (justice vs mercy)

3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyality)

4. Jangka pendek lawan jangka Panjang (short term vs long term)

C. Prinsip dalam Pengambilan Keputusan

            Bapak/Ibu Guru hebat kita tidak boleh gegabah atau tergesa-gesa dalam pengambilan keputusan dalam situasi dilema etika. Kita harus memiliki prinsip yang menjadi landasan dalam proses pengambilan keputusan tersebut.  Menurut Kidder Ada tiga prinsip dalam pengambilan keputusan yang sering kali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan yang harus dihadapi pada dunia saat ini.

            1. Berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking)

            2. Berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking)

            3. Berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking)

 

D. Konsep Pengambilan dan Pengujian Keputusan

 

          Sebagai seorang pemimpin pembelajaran , Anda harus memastikan bahwa keputusan yang Anda ambil adalah keputusan yang tepat. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui apakah keputusan tersebut telah sesuai dengan prinsip-prinsip dasar pengambilan keputusan secara etis.

         

Di bawah ini ada 9 langkah untuk memandu Anda dalam mengambil dan menguji keputusan dalam situasi dilema etika.

1. mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini

2. menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

3. kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

4. pengujian benar atau salah yang meliputi uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji

    halaman depan koran, uji panutan / idola.

5. Pengujian paradigma benar lawan benar

6. melakukan prinsip resolusi

7. investigasi opsi trilemma

8. buat keputusan

9. lihat lagi keputusan dan refleksikan

 

        Setelah Bapak/Ibu Guru hebat memahami materi terkait dengan modul 3.1, berikut admin akan membagikan hasil tugas tentang Demonstrasi Kontekstual – Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran. Adapun pertanyaan- pertanyaan panduan sebagai berikut .

·     Bagaimana Anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang Anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal Anda?

Jawaban :

Salah satu prinsip hidup yang senantiasa saya terapkan adalah “Sharing is Caring”.  Prinsip ini saya terapkan dalam setiap kegiatan yang saya lakukan karena saya yakin bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Setiap kali setelah saya mengikuti diklat, seminar, webinar atau kegiatan peningkatan keprofesionalan guru tak lupa saya berbagi ilmu yang saya dapat dengan rekan- rekan guru di  sekolah maupun di nusantara  melalui forum komunitas praktisi  secara formal ataupun non formal. Saya berharap ilmu yang saya bagikan dapat bermanfaat dan menginspirasi rekan-rekan guru yang lain untuk melangkah maju melakukan perubahan ke arah positif terutama dalam bidang Pendidikan. Adapun cara yang saya lakukan dalam mentransfer dan membagikan pengetahuan yang saya dapatkan dalam Program Guru Penggerak Angkatan 4 ini yaitu:

1. Menyusun rencana program guru penggerak yang akan saya laksanakan  di SDN 2 Mungkung.

2. Saya akan mengkomunikasikan dan berdiskusi dengan Kepala Sekolah mengenai program yang telah saya susun .

3. Melakukan sosialisasi  secara luring atau daring tentang materi program guru penggerak melalui komunitas praktisi SDN 2 Mungkung Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk.

    Transfer ilmu pun saya lakukan melalui unggahan tulisan-tulisan pada blog pribadi “catatanbulia” yang bisa diakses oleh seluruh Bapak/Ibu Guru Hebat yang ada di Indonesia. Tak jarang saya pun mengunggah video aksi nyata untuk menerapkan materi yang saya dapat dalam Program Guru Penggerak Angkatan 4 melalui channel youtube  “guru anyaran”.

·     Apa langkah-langkah awal yang akan Anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?

Jawaban:

Dalam rangka mewujudkan merdeka belajar  dengan menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid tentunya akan ada saat di mana kita sebagai seorang pemimpin pembelajaran dihadapkan pada situasi dilema untuk mengambil sebuah keputusan yang tepat dan efektif. Langkah-langkah awal yang akan saya lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasar pemimpin pembelajaran yaitu:

1. Saya terlebih dahulu menentukan apakah situasi/kasus yang saya hadapi termasuk dilema etika atau bujukan moral.

2. Mengidentifikasi dan menganalisa paradigma pengambilan keputusan berdasarkan situasi  dilema atau kasus yang dihadapi.

3. Memilih dan menentukan prinsip yang digunakan sebagai landasan dalam pengambilan keputusan.

4. Menguji keputusan yang saya ambil dengan menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

5. Memastikan bahwa dalam pengambilan keputusan sudah sesuai dengan visi dan misi yang telah disusun dan disepakati.

 

 

·     Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa? Catat rencana Anda, sehingga Anda tidak lupa.

Jawaban:

Saya akan menerapkan langkah-langkah pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ketika saya dihadapkan pada situasi dilema etika yang memerlukan pengambilan keputusan tepat dan efektif . Jika hari ini, besok, minggu depan atau pun hari -hari selanjutnya saya dihadapkan dengan situasi dilema etika maka saya akan menerapkan Langkah-langkah pengambilan keputusan berdasarkan 4 paradigma dilema etika,3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan serta pengujian keputusan.

 

·     Siapa yang akan menjadi pendamping Anda, dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Seseorang yang akan menjadi teman diskusi Anda untuk menentukan apakah langkah-langkah yang Anda ambil telah tepat dan efektif.

Jawaban:

Dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran tentunya saya akan membutuhkan seseorang yang akan menjadi teman diskusi untuk memastikan Langkah yang saya ambil telah tepat dan efektif. Oleh karena itu, saya membutuhkan rekan sejawat yang juga merupakan sesama CGP sebagai  teman diskusi . Selain itu, saya juga meminta saran dan masukan dari Kepala Sekolah dan anggota komunitas praktisi yang ada di SDN 2 Mungkung untuk berdiskusi dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Saya melakukan refleksi kembali untuk mengukur efektivitas pengambilan keputusan yang telah saya buat sehingga saya merasa yakin bahwa keputusan yang saya ambil tidak merugikan  atau berpihak sebelah . Pengambilan keputusan yang tepat sebagai pemimpin pembelajaran seyogyanya mampu menyeimbangkan antara dua pihak atau antara dua opsi yang ada dengan pilihan yang tepat dan benar sehingga tidak merugikan orang lain.

Demikian tugas modul 3.1.a.7 tentang demonstrasi kontekstual-pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran . semoga bermanfaat

 

Salam tergerak, bergerak dan menggerakkan.